Ahlan wa Sahlan Ikhwah fiddin semuanya, Semoga website ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua ❤️ Semoga Allah merahmati dan menganugerahkan kita ilmu yang nafi' dan mudah dalam mengamalkan setiap ilmunya. Aamiin ya rabbal aalamiin.
Sat. Jun 13th, 2026

panjang angan angan

“Takutnya seorang manusia terhadap kemiskinan di dunia itu di sebabkan karena angan-angannya yang panjang & penyakit WAHN (CINTA DUNIA)

Seseorang dapat mengumpulkan harta,namun yakinlah bahwa sebanyak apapun harta yang dikumpulkannya, ia takkan mampu untuk memenuhi seluruh angan-angannya, sebagaimana mustahilnya seseorang mencari Ridha manusia maka begitu pula mustahilnya seseorang memenuhi seluruh angan-angannya dalam kehidupannya.”

CHAPTER 1 – BAB ANGAN-ANGAN

“Angan-angan itu terbagi menjadi dua;

Yang pertama adalah al-amal yakni mengangankan terjadinya sesuatu. Namun istilah ini lebih banyak diperuntukkan untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil untuk di raih.

Adapun yang kedua yakni thulul-amal yaitu yang sifatnya terus-menerus bersemangat mencari dunia & mencurahkan segala hal untuk dunia sampai mati-matian, dan di sisi lain, banyak pelakunya yang justru berpaling dari urusan-urusan akhirat.

📚 : Nudhratun na’im fi makarimil akhlaq 10/4857

Makna yang pertama adalah sesuatu yang kecil kemungkinannya untuk di raih tidak menjadi sebab utama seseorang mendapatkan peluang tersebut karena mencari sebab agar kemungkinan tersebut dapat di raih memerlukan izin dari Allah Azza wa jalla berupa petunjuk & pertolongan Allah.(1)

Makna yang kedua adalah sesuatu yang sifatnya terus-menerus di kejar tanpa kenal lelah dengan arah tujuan yang diperuntukkan untuk meraih dunia atau mencapai suatu target dunia namun dengan mengorbankan urusan-urusan akhirat, dan inilah yang dikatakan para ulama sebagai yang tercela.

CHAPTER 2 – BAB SIFAT-SIFAT PANJANG ANGAN-ANGAN

Al-Imam Al-Munawi Rahimahullahu ta’alaa menjelaskan sifat-sifat panjang angan-angan sebagai berikut :

من عزم على سفر إلى بلد بعيد يقول أملت الوصول ولا يقول طمعت، لأنّ الطّمع لا يكون إلّا فى القريب، والأمل في البعيد، والرّجاء بينهما، لأنّ الرّاجي يخاف ألّا يحصّل مأموله

“Seseorang yang ingin pergi safar ke tempat yang sangat jauh, maka ia akan mengatakan: aamaltul wushul bukan thama’tul wushul. Karena tamak itu tidak dilakukan kecuali kepada yang dekat. Sedangkan al-amal hanya kepada yang jauh saja. Adapun ar-raja’, di antara keduanya. Karena orang yang raja’ (bercita-cita) ia khawatir apa yang diangankan itu tidak tercapai”

📚 : Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857.

Sebagaimana yang dikatakan Imam Al-Munawi Rahimahullahu ta’alaa, bahwa Al-amal (angan-angan) sangatlah berbeda dengan ath-tham’u (tamak) dan ar-raja’ (cita-cita).
Al-amal adalah perkara yang kemungkinannya kecil untuk di raih, adapun ar-raja’ (cita-cita) itu adalah mengharapkan sesuatu yang mungkin di-raih, dan dengan ath-tham’u (tamak) inilah yang tercela yakni berlebih-lebihan dalam menginginkan perkara yang mudah diraih sehingga dengan segala cara di halalkan bahkan meski harus mengorbankan urusan-urusan akhirat dan berambisi terhadap mengejar urusan-urusan dunia yang dikejarnya.

Sebagaimana yang mungkin dapat kita saksikan di tengah-tengah kehidupan kita dimana sebagian manusia ketika berurusan dengan urusan dunia ada yang rela mati-matian mengejarnya sampai mengabaikan urusan akhiratnya dan merusak badan-badan yang telah Allah ta’alaa amanahkan padanya.

Ini bukanlah sesuatu yang tabu yang dimana bagi sebagian kita yang menyadari dan peka terhadap hal tersebut untuk bisa mengambil ibroh agar menjauhkan diri kita terhadap cara-cara orang-orang tersebut dalam mengambil apa urusan-urusan yang menurutnya baik untuknya tanpa mempertimbangkan mudharatnya untuk kehidupan & dirinya (padahal belum tentu baik menurut Allah).

CHAPTER 3 – CELAAN TERHADAP SIFAT THULUL AMAL AMBISIUS DALAM MENGEJAR URUSAN-URUSAN DUNIA KARENA CINTA DUNIA)

Allah ta’alaa dan rosulnya Shallallahu’alaihi wa sallam mencela sifat panjang angan-angan. Di dalam al-Qur’an, Allah ta’alaa berfirman :

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga rusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”
(QS. al-Hadid: 16).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bagaimana kondisi anak Adam dengan angan-angannya yang panjang dengan bersabda :

هذا ابنُ آدمَ وهذا أجلُه ؛ ووضع يدَه عند قَفَاهُ ، ثمَّ بسطَها فقال : وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ

“Ini adalah anak cucu Adam, ini ajalnya mengitarinya, yang ada ditengah ini manusia dan garis-garis ini halangan-halangannya, bila ia selamat dari yang ini ia digigit oleh yang ini (maksudnya kematian), sementara garis yang di luar adalah angan-angan”
(HR. at-Tirmidzi)

Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ta’alaa ‘anhu pernah mengatakan :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ

“Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat”

📚 : Hilyatul Auliya’, 1/76

CHAPTER 4 – SIKAP YANG BENAR DALAM MENYIKAPI URUSAN-URUSAN DUNIA

Sebagai seorang manusia yang menyadari secara penuh bahwa kehidupan ini amatlah sebentar, maka hendaknya seyogya-nya seseorang tersebut untuk mempersedikit angan-angan dalam urusan dunia dan senantiasa lebih banyak fokus dan perhatian dalam urusan-urusan akhirat.

Selayaknya seseorang yang mampir untuk singgah, maka sedikit sekali urusan-urusan yang dipikul dipundaknya dengan tempat yang disinggahi olehnya.

Sahabat nabi, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ta’alaa ‘anhu berkata :

في الدنيا كأنك غريبٌ أو عابرُ سبيلٍ ) . وكان ابنُ عُمرَ يقولُ : إذا أمسيْتَ فلا تنتَظِرِ الصباحَ، وإذا أصبحْتَ فلا تنتظِرِ المساءَ، وخُذْ من صحتِك لمرضِك، ومن حياتِك لموتِك

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul bahuku lalu bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang mampir di tengah perjalanannya’. Lalu Ibnu Umar mengatakan: ‘jika engkau ada di sore hari, maka jangan menunggu hingga pagi, jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, manfaatkan waktu hidupmu sebelum matimu’” (HR. al-Bukhari no. 6416).

CHAPTER 5 – AT-TATIMMAH (PELENGKAP)

Kebanyakan manusia takut akan kemiskinan sehingga betapa banyak orang yang merasa perlu untuk mengambil lebih dari apa yang telah Allah tetapkan untuknya hanya untuk mewujudkan angan-angannya yang panjang, sehingga banyak dari manusia yang menempuh cara apapun untuk mencapai suatu hal yang mustahil tersebut sampai rela mengorbankan urusan-urusan akhiratnya.

Betapa kebanyakan manusia memanjangkan angan-angannya hanya untuk memuaskan hasrat lahiriyahnya hingga sampai-sampai ada yang tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana.

Betapa banyak pula manusia yang panjang angan-angannya sangat amat kurang dalam menapaki kesabaran sampai-sampai syahwat & hawa nafsu menguasainya dan lalai dalam melakukan keta’atan & mengingat Allah ta’alaa.

Semakin banyak manusia yang memiliki ‘Excuse’ dengan mengatakan:”Ah hidup masih di dunia ini,nikmatin dulu aja” padahal betapa banyak dari manusia yang kemarin mati-matian untuk mengejar angan-angannya terhadap dunia kemudian keesokannya terdengar kabar kematiannya. Maka tidakkah ada yang belajar darinya?

Maka seyogyanya seorang manusia mempelajari bagaimana beradab dengan urusan dunia & urusan akhirat, bilamana seseorang mampu untuk beradab dengan kedua perkara tersebut dengan baik & benar maka ia akan menjadikan dunia itu sebagai batu pijakan dengan proporsi yang cukup untuk bisa menjaga amanah Allah dalam cakupan berbagai keseluruhan hal dalam urusan akhirat.

Urusan akhirat tidak hanya sekedar bagaimana ia senantiasa menjaga ibadah-ibadahnya,keta’atannya,iman & Islamnya,ketaqwaannya kepada Allah ta’alaa, melainkan juga bagaimana ia menjaga agar tubuh (badan) tidak bergerak ke belahan bumi manapun yang ia pijaki kecuali hanya untuk mengagungkan Allah dalam tiap-tiap urusan-urusan dunia.

Seseorang hendaknya senantiasa untuk berusaha agar tidak kontradiktif dalam kesehariannya, kondisi dimana ia meniadakan urusan pokoknya (akhirat) sebagai hamba hanya karena urusan-urusan sekunder yang sifatnya ‘temporary needs’ seperti urusan-urusan dunia, kan tidak akan selamanya urusan dunia itu akan senantiasa di tempuh,pasti urusan-urusan itu ada akhirnya dan ketika ia memutuskan untuk kontradiktif dengan meniadakan urusan pokoknya (akhirat) hanya untuk urusan sekunder maka itu menandakan bahwa ia tidak benar-benar mengetahui mana yang benar-benar prioritas sesungguhnya untuk bekal dirinya.

BarakAllahu fiikum
Muhammad Taufik Ali Razaq,
Jakarta,23 Dzulhijjah 1447 Hijriah

By Muhamad Taufik Ali Razaq

thalabul 'ilm yang berusaha menebar manfaat.

Portal Salafy