Ahlan wa Sahlan Ikhwah fiddin semuanya, Semoga website ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua ❤️ Semoga Allah merahmati dan menganugerahkan kita ilmu yang nafi' dan mudah dalam mengamalkan setiap ilmunya. Aamiin ya rabbal aalamiin.
Sat. Jun 13th, 2026

78e488ebfda82e1ceab12bf41fc55e64

Banyak di dapati di tengah-tengah kita kalau selepas kajian selesai langsung beralih ngobrolin urusan-urusan dunia, sehingga kita tidak punya waktu yang cukup untuk menela’ah materi & memperdalam pembahasan materi yang di bahas.
efeknya, kita sering lupa, blank dengan materi sebelumnya, bahkan mungkin tidak sedikit yang bahkan tidak terserap ke dalam keseharian kita (tidak di amalkan dengan sebenar-benarnya).

“Maka ketahuilah, menuntut ilmu di majelis ilmu bukan hanya sekedar kita datang,duduk,mendengar dan mencatat kemudian selesai, akan tetapi tentang bagaimana kita bisa mengembangkan materi tersebut sebagai bahan untuk diri kita berkembang dengan menela’ah & memperdalam pembahasannya melalui keterangan para ulama dan nash-nash yang konkrit untuk memperkuat pembahasan yang di bahas tersebut sehingga kita bisa mengamalkannya dengan maksimal dalam keseharian kita.”

    Tidaklah mengherankan banyak kita dapati di tengah-tengah kita ikhwan & akhwat kita yang masih menyukai perdebatan, masih menyukai perkara-perkara remeh,receh & sia-sia jika dilakukan.

    Ma’ruf Al Karkhi Rahimahullahu ta’alaa berkata :

    إذا أراد الله بعبد خيرا فتح الله عليه باب العمل وأغلق عنه باب الجدل وإذا أراد بعبد شرا أغلق عليه باب العمل وفتح عليه باب الجدل

    “Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat atau bantah-bantahan). Jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup baginya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat)”

    📚 : Hilyatul Auliya’, 8:361

    Ilmu itu tidak datang hanya karena kita duduk semata di dalam majelis ilmu dan inilah blind spot yang masih menjadi PR bagi kita semua.

    Ada banyak Pokok-Pokok yang hendaknya kita tela’ah & perdalam karena guru-guru kita di dalam majelis ilmu memberikan penjabaran secara ilmiah agar kita mendapati gambaran ringkasnya. Seandainya guru-guru kita menjelaskan secara terperinci dan detail maka butuh berapa banyak waktu untuk bisa menyelesaikannya? tentulah amat banyak.

    oleh Sebab itu, CULTURE yang hendaknya kita tanamkan dalam diri kita sebagai seorang penuntut ilmu yang duduk di majelis ilmu,rutin mendatangi majelis ilmu serta berusaha meniatkan kehadiran kita agar mendapatkan kemuliaan ilmu tersebut (sehingga dapat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari kita) adalah Culture yang menjadikan diri kita memahami bahwa ada waktunya waktu-waktu untuk membahas urusan-urusan dunia, ada waktunya waktu-waktu untuk menenun pemahaman kita terhadap bagaimana kita sebagai penuntut ilmu merajut pahala melalui ilmu dengan memahami cara beramal shalih dengan ilmu yang di perdalami tersebut.

    Kebiasaan ini tidak lepas dari seringnya kita tergesa-gesa dengan urusan-urusan dunia, yang bahkan di dalam masjid, di rumah Allah pun kita yang harusnya fokus untuk merajut pemahaman kita akan jalan menuju akhirat menjadi terkaburkan disebabkan terdistraksi oleh urusan-urusan dunia tersebut.

    Walaupun datang,duduk,mendengar,mencatat dan berniat untuk meraih ilmu di dalam majelis ilmu itu penting, namun kita tidak boleh melupakan bahwa di luar majelis ilmu kita masih punya kwajiban untuk menela’ah & mendalami serta memahami materi tersebut sehingga dapat bermanfaat untuk keseharian kita.

    sebagaimana perkataan ‘Abdul Wahid bin Zaid Rahimahullahu ta’alaa beliau berkata :

    من عمل بما علم فتح الله له ما لا يعلم

    “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membuka untuknya hal yang sebelumnya ia tidak tahu.”

    📚 : Hilyatul Auliya’, 6:163

    Seseorang seperti kita tidak akan mampu mengamalkan ilmu sebelum kita bisa mempelajarinya, namun bagaimanakah kondisi kita setelah selepas kajian selesai kita masih membahas urusan-urusan dunia bukannya kita pulang ke rumah kemudian buka kembali catatan kita kemudian kita mempelajarinya & menela’ah baru setelah itu kita memahaminya??

    Inilah dimana kita seringkali merasa bahwa sudah datang ke majelis ilmu, mencatatnya, mendengar isi kajiannya sudah merasa “cukup” karena pada dasarnya kita tidak terbiasa untuk benar-benar melepas urusan-urusan dunia dari hati kita sepenuhnya.

  1. Al-imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu ta’alaa pernah menjelaskan :

    “Memutus hubungan agar dunia tidak berada di hatinya, akan semakin terpuji apabila itu dilakukan karena 2 alasan,

    [1] Karena kekhawatiran itu bisa membahayakan agamanya.

    [2] Ketika dia merasa tidak ada maslahat besar di sana.

  2. Dari keterangan Imam Ibnul Qayyim kita mendapati pelajaran bahwa dimanapun kita berada, bahkan ketika kita merasa semua kwajiban kita (menuntut ilmu) itu selesai maka semua urusan-urusan tersebut usai, sementara kita tergesa-gesa dengan urusan-urusan dunia (sampai membahasnya di dalam rumah Allah selepas kajian selesai) ini menunjukkan bahwa hati kita punya hal-hal mendesak dengan urusan-urusan dunia tersebut dan kita tidak merasa khawatir bahwa bisa jadi urusan-urusan dunia tersebut justru malah membahayakan agama kita (dari sisi pemahaman)

    Porsi terhadap suatu hal akan selalu berbanding lurus dengan besarnya maslahat, ketika Maslahat itu lebih besar maka kita akan cenderung lebih sering membahasnya setiap waktu tanpa kita mengenal tempat,waktu,ataupun dimana kita berpijak sebagai sebuah tanda bahwa kita punya keterpautan yang erat dengan suatu urusan-urusan tersebut.

    Dengan ini hendaknya kita harus memahami, bahwa tugas kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah menyirami kalbu-kalbu kita agar menjadi kalbu yang terdidik, sehingga seluruh anggota badan kita pun mengikuti kalbu tersebut, hati yang terdidik dengan benar maka akan melahirkan tindakan-tindakan yang benar, tindakan-tindakan dari anggota badan kita yang mencerminkan bahwa kita adalah seorang hamba yang takut kepada Allah Azza wa jalla dalam kesehrian kita melalui tindakan dari seluruh anggota badan kita, dan itu di mulai terlebih dahulu melalui Kalbu kita.

    Nabi Shallallahu’alaihi,beliau pernah bersabda :

    أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

    “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”

    (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

    Oleh Sebab itu, ikhwah Fiddin, menjadi seorang penuntut ilmu itu tidaklah mudah, namun jangan kita merasa karena kita punya label tersebut kita terbebas dari kwajiban-kwajiban di luar dari majelis ilmu, Belajarlah dari para ulama yang secara Continue menela’ah & memperdalam catatan mereka, dan karena itulah mereka melahirkan begitu banyak karya yang bisa kita nikmati pada hari ini.

    Setidaknya,walaupun kita belum tentu mampu menyaingi mereka, namun jadikanlah mereka sebagai inspirasi agar kita punya motivasi yang kuat untuk bisa mendalami Ilmu Allah dengan sebenar-benarnya.
    Kita hendaknya merasa malu mengatakan atau mengclaim diri kita seorang “penutut ilmu” sementara kita menjadikan urusan-urusan dunia bagaikan sepasang burung pipit yang senantiasa hinggap di kedua pundak kita bahkan ketika kita sedang berurusan dengan urusan kwajiban-kwajiban akhirat kita.

    Maka selepas kajian selesai, Pulanglah, jangan mampir kemana-mana, sesampainya kita di rumah,bukalah kembali catatannya,kemudian tela’ah lebih dalam pembahasan yang di bahas oleh guru-guru kita agar dalam keseharian kita selamat dari akibat buruk yang di sebabkan karena kebodohan kita sebagai seorang hamba, karena inti dari menuntut ilmu adalah menghilangkan kebodohan dalam diri kita.

BarakAllahu Fiikum.

By Muhamad Taufik Ali Razaq

thalabul 'ilm yang berusaha menebar manfaat.

Portal Salafy